<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/677191516255362616?origin\x3dhttp://infogaya-film.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Jumat, 29 Juli 2011

Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2

Jenis Film Fantasy, Remaja, Teenage - Pemain Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Michael Gambon, alan Rickman, Helene Bonham Carter, Maggie Smith - Sutradara David Yates - Penulis Steve Kloves - Produser David Heyman, David Barron, J.K. Rowling - Produksi Warner Bros. Pcitures - Durasi 130 menit.

Setelah menghancurkan Horcrux dan menemukan makna dari tiga Deathly Hallows, Harry, Ron dan Hermione terus mencari Horcrux lainnya dalam upaya untuk menghancurkan Lord Voldemort. Namun, sekarang bahwa Voldemort telah menguasai Tongkat Elder, ia ingin menyelesaikan tahap akhir untuk mencapau kekuasaan tertinggi dan melancarkan serangan terhadap Sekolah Sihir Hogwarts, dimana tiga sekawan untuk terakhir kalinya melawan kekuatan gelap yang mengancam untuk menguasaia dunia Sihir dan dunia Muggle

Film disertai teks bahasa Indonesia.

Label: ,

Film Blockbuster Akan Main di Indonesia

Gedung Sapta Pesona, Jakarta 28 Juli 2011 - Setelah hampir 5 (lima) bulan pihak major studio Hollywood yang tergabung dalam Motion Picture Association (MPA) melakukan commercial hold, maka terhitung sejak 15 Juli 2011 telah kembali melakukan ekspor produk film blockbuster ke indonesia.

Pencabutan commercial hold oleh MPA dilakukan menyusul telah dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 90/PMK.011/2011 yang mengatur perubahan mendasar dalam sistem penghitungan bea masuk film impor dari sistem metrik menjadi durasi dan dari sistem tarif Ad Valerum menjadi Tarif Spesifik.

Sementara itu PMK No. 102/PMK.0112011, semakin memperkuat keyakinan major studio Hollywood untuk mengekspor filmnya ke Indonesia. PMK yang dimaksud mengatur tentang dasar nilai lain dalam pengenaan PPN dan PPH atas pemanfaatan film impor di dalam daerah pabean.

Sebagai pelaku usaha impor film, PT. Omega Film telah mendapatkan kepercayaan sebagai mitra major studio Hollywood yang tergabung dalam MPA untuk mengimpor empat film blockbuster dan dua diantaranya adalah:

1. Transformers: Dark of the Moon
2. Harry Potter and the Deathly Hallows Part-2

Diharapkan film-film yang telah lulus sensor tersebut di atas dapat mulai dipertunjukkan di bioskop-bioskop pada akhir bulan ini.

Hal lain yang juga disampaikan oleh Menbudpar bahwa selama periode Januari sampai Juli 2011, jumlah film impor mencapai 75 judul. Film-film tersebut diimpor oleh 9 (sembilan) perusahaan impor film yang aktif dan 65 peusahaan impor film yang terdaftar.

Label: , , ,

Minggu, 24 Juli 2011

Kembalinya Film-Film Hollywood Di Bioskop Indonesia

Film-Film Hollywood
Kembali Menghiasi Layar Bioskop Di Indonesia

Hotel Acacia Jakarta, 23 Juli 2011 - Sejak terjadinya kemelut mengenai bea masuk dan pajak royalti untuk film-film impor yang mulai bergulir sekitar 5 bulan lalu, telah mengakibatkan terhentinya pasokan film-film Hollywood khususnya produksi perusahaan film major yang tergabung dalam MPAA (Motion Pictures Association of America). Sehingga sebagian besar masyarakat khususnya pencinta Film kecewa, karena mereka tidak dapat menyaksikan film-film kesayangannya di bioskop-bioskop di Indoneisa.

"Tidak tayangnya film-film Hollywood di bioskop-bioskop telah mengakibtkan penurunan jumlah penonton secara drastis, yang juga mengakibqtkqn penurunan pendapatan bagi produser film nasional. Hal tersebut juga berpengaruh pada pendapatan pajak daerah dari sektor pajak tontonqn untuk wilayah DKI Jakarta tercatat 3.9 milyar. Kemudian terjadi penurunan secara berangsur-angsur. Dan pada bulan Juni 2011 pendapatan dari sektor tersebut hanya sekitar 1,8 milyar. Ini bearti terjadi penurunan lebih dari 50%" kata Ketua Umum GPBSI H. Djony Syafruddin, SH, dalam jumpa pers di Hotel Acacia, Jl. Kramat Raya 81 Jakarta Pusat, Sabtu 23 Juli 2011.

Kemelut tentang bea masuk dan pajak tersebut kini telah diproses oleh pihak-pihak yang terkait, yakni Kementerian Keuangan dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Importir. Terjadinya permasalahan tersebut bukan merupakan kesengajaan pihak Importir, namun akibat adanya miss-interpretasi tentang kebijakan pungutan pajak dimaksud hingga memasuki ranah hukum. hal tersebut kini sudah dipahami oleh kedua belah pihak yakni Kementerian Keuangan dan pihak Importir. Salah satu hasilnya adalah tarif bea masuk film import mengalami kenaikan sebesar 100% dari tarif yang lama, dan sistem perhitungannya tidak lagi mengukur panjangnya film, tetapi dihitung berdasarkan durasi.

Bagi importir yang belum menyelasikan kewajibannya, proses masih terus berlangsung di pengadilan pajak.

Pemerintah telah mengeluarkan ijin impor untuk importir baru "Omega Film" mengimpor film-film produksi MPAA. Demikian pula pihak MPAA telah menyetujui dan menunjuk Omega Film untuk mengimpor dan mengedarkan film-filmnya di Indonesia.

Lebih lanjut Djonny Syafruddin mengatakan; "Memang, keberadaan bioskop di Indonesia saat ini didominasi oleh kelompok 21. Namun tidak ada upaya dan tindakan mereka untuk melakukan monopoli. Hal tersebut telah dibuktikan 2 kali proses di KPPU di mana GPBSI turut serta dalam proses tersebut dan tidak terbukti adanya monopoli.

Sebagaimana ketentuan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman bahwa bioskop wajib memenuhi screen quota yakni 60% untuk film nasional dan 40% untuk film impor".

Perlu diketahui bahwa saat ini di Indonesia terdapat 180 bioskop dengan 702 layar. namun penyebaran bioskop tersebut masih belum merata, dan tidak semua daerah provinsi terdapat bioskop. Berdasarkan catatan terakhir kami, dari 33 provinsi di Indonesia, aat ini hanya 19 provinsi yang memiliki bioskop. DPP GPBSI telah mengupayakan agar bioskop khususnya bioskop menengah ke bawah mendapatkan suplay film yang wajar dan adil. GPBSI juga telah memberikan masukan-masukan kepada Pemerintah agar segera diberlakukan Peraturan Menteri tentang Tata Edar Film agar tercipta keadilan bagi bioskop-bioskop dalam memperoleh suplay film.

"Kami, keluarga besar GPBSI mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Keuangan, Insan Pers baik cetak maupun elektronik, serta komunitas masyarakat penonton bioskop yang telah banyak memberikan perhatian dan empati terhadap keberadaan bioskop di tanah air", tegas Djony.

Dengan selesainya permasalahan tersebut, kini bioskop siap memutar kembali film-film Box Office seperti "Harry Potter and The Deathly Hallows-Part 2", "Transformer: Dark of The Moon" dan lain-lain pada akhir bulan Juli 2011, wlaupun sudah tertinggal sekitar 2 minggu dari jadwal release film tersebut di seluruh dunia.

Namun demikian, GPBSI tetap secara konsisten akan memprioritaskan film nasional terutama pada Hari Raya Idul Fitri mendatang. Setidaknya ada 5 judul film nasional yang siap tayang, yakni; "Di Bawah Lindungan Ka'bah", "Tendangan Dari langit", "Lima Elang", "Get Married 3", "Mengejar Jodoh kau Ku Tangkap".

"Untuk itu kami mohon perhatian pemerintah agar memberikan kesempatan bagi bioskop-bioskop yang dalam kondisi kritis untuk melakukan recovery guna menutupi kerugian selama hampir 5 bulan terakhir, agar bioskop tetap eksis", tambah Djonny.

DPP GPBSI mendukung adanya kerjasama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk melakukan survey dan mendata kembali keberadaan bioskop-bioskop di tanah air. Hasil survey tersebut nantinya akan dibahas bersama Pemerintah, sehingga apa yang ditargetkan Pemerintah agar pada tahun 2014 terdapat 1.000 layar bioskop dapat tercapai.

"Harapan kami, apabila Pemerintah akan mengeluarkan regulasi tentang film dan bioskop di kemudian hari, dapat kiranya mengikutsertakan assosiasi perbioskopan dan juga harapan kami agar tarif listrik yang menjadi beban terberat dalam operasional sebesar 60% bagi bioskop dapat ditinjau kembali", imbau Djonny.

Label: , , ,

Kamis, 18 November 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I


Jenis Film Fantasy, Remaja, Teenage - Pemain Daniel Radcliffe, Rubert Grint, Emma Watson, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Gary Oldman, Robbie Coltrane - Sutradara David Yates - Penulis Steve Kloves - Produser David Heyman, David Barron - Produksi Warner Bros. Pictures.












Kekuatan Voldemort semakin kuat. Ia menguasai seluruh Kementerian Sihir dan Hogwarts. Harry, Ron, dan Hermione memutuskan untuk menyelesaikan perjuangan Dumbledore dan menemukan Horcruxes untuk mengalahkan Pangeran Kegelapan. Namun, sedikit harapan untuk mereka melakukan itu, sehingga segalanya harus berjalan seperti yang telah direncanakan.

Siapa pun yang sudah melahap habis tujuh buku Harry Potter pasti tahu bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows memiliki mood paling gelap dibanding enam buku sebelumnya. Sepertinya mood ini berhasil dipertahankan sutradara David Yates dalam adaptasi filmnya. Sepanjang film, nuansa gelap dan muram sangat terasa, mulai dari tone warna, dialog, hingga musik scoring. Sulit dipercaya bahwa sembilan tahun yang lalu seri film ini dimulai dengan sebuah film keluarga yang ditonton banyak anak-anak.

Tentunya film dibuat lebih "gelap" bukan tanpa alasan. Di seri sebelumnya (Harry Potter and the Half-Blood Prince), film diakhiri dengan kematian Albus Dombledore. Maka The Deathly Hallows dimulai dengan memperlihatkan kekacauan dunia sihir dan dunia muggle sepeninggal Dumbledore. Kementrian Sihir diambil alih Death Eater (alias Pelahap Maut), muggle dan penyihir "berdarah lumpur" ditangkap dan dibunuh, bahkan demi melindungi keluarganya, Hermione sampai harus menghapus dirinya dari ingatan kedua orang tuanya.

Kalau itu masih kurang "muram", di 30 menit pertama sudah ada satu tokoh yang tewas, dan satu lagi yang terluka parah. Bahkan pesta pernikahan Bill Weasley dengan Fleur Delacour pun tak berhasil menciptakan suasana suka cita di kediaman keluarga Weasley.

Dari situ, fokus film berpindah pada petualangan Harry, Ron, dan Hermione mencari dan menghancurkan horcrux. Horcrux adalah jimat berisi potongan jiwa Lord Voldemort -- seluruhnya berjumlah tujuh buah -- yang jika semuanya berhasil dihancurkan, tamatlah riwayat Sang Pangeran Kegelapan. Tentunya mencari horcrux bukan hal yang mudah, karena tak ada satu pun dari mereka yang tahu apa bentuk horcrux-horcrux tersebut. Dan jika sudah berhasil ditemukan pun, tak ada yang tahu bagaimana cara menghancurkannya.

Situasinya makin rumit karena kali ini tiga sekawan penyihir ini tak mendapat bantuan sama sekali dari pihak luar, bahkan dari keluarga mereka sendiri. Harry dkk terpaksa tinggal di tenda, berpindah-pindah tempat supaya tak mudah terlacak. Maklum saja, wajah Harry sudah tersebar di seluruh penjuru kota dalam selebaran bertuliskan 'Wanted'.

Masalah juga timbul saat Ron -- yang diam-diam jatuh cinta pada Hermione -- merasa cemburu dengan kedekatan Harry dan gadis pujaannya. Beban Ron di perjalanan ini memang tak ringan. Bukan saja merasa tersisih dari Harry dan Hermione yang sering menghabiskan waktu bersama, Ron juga tak pernah melepaskan pendengarannya dari siaran radio gerilya. Radio ini tak memutarkan musik, melainkan memberi informasi tentang siapa saja penyihir yang dinyatakan hilang, dan siapa saja yang terbunuh.

Tapi jangan khawatir, di tengah segala kesedihan dan ketegangan film, kita masih akan dibuat tertawa dengan humor-humor khas Harry Potter. Pengocok perut paling utama tentu saja adalah Ron, yang dari dulu dikenal suka melontarkan pernyataan-pernyataan konyol. Belum lagi usahanya memikat hati Hermione yang bukan jadi romantis tapi malah mengundang tawa.

Oh ya, kenapa ada embel-embel "Part I" pada judul film? Tidak lain karena buku terakhir dari seri Harry Potter ini memang diangkat ke dalam dua film. Mungkin terlalu banyak detail yang tak boleh terlewatkan sehingga jika semuanya dimuat ke satu film bisa-bisa durasinya jadi lima jam. Maka berakhirlah Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I pada sebuah adegan yang menampilkan Lord Voldemort. Penonton pun dibuat geregetan dan penasaran karena harus menunggu sambungan ceritanya -- Harry Potter and the Deathly Hallows: Part II -- yang baru akan dirilis Juli 2011.

Beranda

Label: